Sabtu, 21 November 2015

SASTRA



SASTRA
Pengertian sastra menurut pendapat beberapa ahli :
1.      Menurut Aristoles       : “Sastra sebagai kegiatan lainya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsaat”
2.      Menurut Sapardi         : “Memparan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunaan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan da kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.
3.      Menurut KBBI (2008)            : “Sastra adalah karya tulis yang bila dibandingkan dengan tulisan lain, ciri – ciri keugulan, seperti keaslian, keartistikan, keindaha dalam isi dan ungkapannya. Karya sastra berarti karangan yang mengacu pada nilai – nilai kebaikan yang ditulis dengan Bahasa yang indah. Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual, dengan caranya yang khas. Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri.
Tiga jenis sastra :
1.      Jenis Naratif                :
Yang dimaksud dengan teks – teks naratif ialah semua teks yang idak bersifat dialog dan yang isinya suatu kisah sejarah, sebuah deretan pristiwa. Bersamaan dengan kisah dan deretan peristiwa tersebut hadir sebuah cerita  (uxemburg, 1948)

2.      Jenis Dramatik            :
Yang dimaksud dengan teks drama ialah semua teks yang bersifat dialog dan yang isinya membentangkan sebuah alur. (Luxemburg, 1984)

3.      Jenis Puisi                    :
Yang dimaksud teks puisi ialah teks monolog yang isinya tidak pertama – tama sebuah alur. Selain itu ciri puisi yang puisi yang paling mencolok ialah penampilan tipografinya.

Sumber            : ww.rumpunsastra.com

Contoh Sastra :

SENJA UNTUK KU
By : Wy, Carolina.

            Beberapa minggu yang lalu aku melihat senja di dalam gereja, biasnya tak setegas yang disajikan cakrawala namun ia tetap nampak indah. Senja itu nampak sempurna dalam kesederhanaanya, tak bosan aku memandangi biasnya sementara ia sendiri sibuk menyembunyikan itu. Aku tak menuntut banyak selain bisa melihatnya lebih lama.
            Kemarin senja itu kembali hadir, tapi kali ini berbeda. Biasnya seolah melukiskan kesedihan, ingin aku bertanya tentang apa keluhnya? Namun biasnya justru semakin semu dan terburu lenyap meninggalkan kegelapan. Senja yang selalu mengajarkanku tentang arti kehidupan, dimana gelap dan terang selalu mengisi tiap kekosongan seirama dan bersamanya pula keindahan tercipta. Tapi mengapa kali ini ia tak nampak bijaksana?
            Hari ini aku dating lebih awal, aku menunggu senja menghampiriku. Dan aku beruntung, senja itu muncul lebih awal dari yang aku perkirakan. Senja itu muncul dengan malu – malu dan perlahan tampak memalukan, namun tetap tak kehilangan rupa bijaksananya. Aku bahagia bisa melihatnya lebih lama kali ini. Ia seolah memelukku erat walau hanya dengan bertatap, dalam hangat senja aku merasa sejuk. Perlahan senja bisikkan padaku, jawaban akan pertanyaan yang tertunda, “Aku muncul sebagai senja, aku jatuhkan padamu segala titik lelahku, menjadi pembatas antara pelita dan gulita. Aku lukiskan segala bias kegelisahan, namun aku tak sepenuhnya gelisah. Aku berdiri di balik malam, membiarkannya terang diatasku. Agar aku tak hanya berguna bagi aku”.
Mulai hari ini, kemunculan senja yang tiba – tiba atau bahkan keterburuannya lenyap bukan hal yang menggelisahkanku. Jawabnya cukup menjanjikan aku, setidaknya aku tau bahwa senja itu akan selalu ada, esok hari, lusa pun menjelang masa senjaku.

Lina, XII IPS 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar