SASTRA
Pengertian sastra menurut
pendapat beberapa ahli :
1.
Menurut Aristoles : “Sastra sebagai kegiatan lainya melalui agama, ilmu
pengetahuan dan filsaat”
2.
Menurut Sapardi : “Memparan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang
menggunaan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.
Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan da kehidupan itu sendiri adalah
suatu kenyataan sosial.
3.
Menurut KBBI (2008) : “Sastra adalah karya tulis yang
bila dibandingkan dengan tulisan lain, ciri – ciri keugulan, seperti keaslian,
keartistikan, keindaha dalam isi dan ungkapannya. Karya sastra berarti karangan
yang mengacu pada nilai – nilai kebaikan yang ditulis dengan Bahasa yang indah.
Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah manusiawi, sosial, maupun
intelektual, dengan caranya yang khas. Pembaca sastra dimungkinkan untuk
menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri.
Tiga jenis sastra :
1.
Jenis Naratif :
Yang
dimaksud dengan teks – teks naratif ialah semua teks yang idak bersifat dialog
dan yang isinya suatu kisah sejarah, sebuah deretan pristiwa. Bersamaan dengan
kisah dan deretan peristiwa tersebut hadir sebuah cerita (uxemburg, 1948)
2.
Jenis Dramatik :
Yang
dimaksud dengan teks drama ialah semua teks yang bersifat dialog dan yang
isinya membentangkan sebuah alur. (Luxemburg, 1984)
3.
Jenis Puisi :
Yang
dimaksud teks puisi ialah teks monolog yang isinya tidak pertama – tama sebuah
alur. Selain itu ciri puisi yang puisi yang paling mencolok ialah penampilan
tipografinya.
Sumber : ww.rumpunsastra.com
Contoh Sastra :
SENJA
UNTUK KU
By
: Wy, Carolina.
Beberapa
minggu yang lalu aku melihat senja di dalam gereja, biasnya tak setegas yang
disajikan cakrawala namun ia tetap nampak indah. Senja itu nampak sempurna
dalam kesederhanaanya, tak bosan aku memandangi biasnya sementara ia sendiri
sibuk menyembunyikan itu. Aku tak menuntut banyak selain bisa melihatnya lebih
lama.
Kemarin
senja itu kembali hadir, tapi kali ini berbeda. Biasnya seolah melukiskan
kesedihan, ingin aku bertanya tentang apa keluhnya? Namun biasnya justru
semakin semu dan terburu lenyap meninggalkan kegelapan. Senja yang selalu
mengajarkanku tentang arti kehidupan, dimana gelap dan terang selalu mengisi
tiap kekosongan seirama dan bersamanya pula keindahan tercipta. Tapi mengapa
kali ini ia tak nampak bijaksana?
Hari
ini aku dating lebih awal, aku menunggu senja menghampiriku. Dan aku beruntung,
senja itu muncul lebih awal dari yang aku perkirakan. Senja itu muncul dengan
malu – malu dan perlahan tampak memalukan, namun tetap tak kehilangan rupa
bijaksananya. Aku bahagia bisa melihatnya lebih lama kali ini. Ia seolah
memelukku erat walau hanya dengan bertatap, dalam hangat senja aku merasa
sejuk. Perlahan senja bisikkan padaku, jawaban akan pertanyaan yang tertunda,
“Aku muncul sebagai senja, aku jatuhkan padamu segala titik lelahku, menjadi
pembatas antara pelita dan gulita. Aku lukiskan segala bias kegelisahan, namun
aku tak sepenuhnya gelisah. Aku berdiri di balik malam, membiarkannya terang
diatasku. Agar aku tak hanya berguna bagi aku”.
Mulai hari ini, kemunculan senja
yang tiba – tiba atau bahkan keterburuannya lenyap bukan hal yang
menggelisahkanku. Jawabnya cukup menjanjikan aku, setidaknya aku tau bahwa
senja itu akan selalu ada, esok hari, lusa pun menjelang masa senjaku.
Lina, XII IPS 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar